Sore ini, aku mempunyai cukup banyak waktu untuk berada di halaman. Tidak setiap waktu aku dapat menikmati halamanku. Berkeliling, menengok ke depan, samping dan belakang membuat aku bersemangat. Membuatku berpikir dan banyak ide bermunculan di kepalaku. Kembang sepatu yang ingin kutambah koleksinya, injakan kaki yang bentuknya segi empat lebih cocok dibanding yang bulat seperti sekarang, daun mint yang bagus jika ditanam dalam wadah untuk saluran air, rumput halus yang ditanam dalam pot-pot kecil untuk ditampilkan di atas meja sebagai pusat perhatian. Dan aku terus berkeliling. Memperhatikan gardena yang kali ini agak banyak bunganya, bunga sepatu merah cerah menyala yang juga agak banyak bunganya, bunga bawang2an yang sudah harus dipangkas, melati yang perlu diperbanyak, soka harus dipangkas agar bentuknya kembali bulat dan caisim yang sudah waktunya dipindahkan ke bedeng.
Aku berjalan ke samping dimana bedeng-bedeng yang tak seberapa banyak itu telah dipersiapkan. Tanah halaman yang pernah ditimbuni dengan puing-puing bekas bangunan ini telah diolah dan dipersiapkan untuk ditanami sayur. Sebenarnya ini ide yang agak nekad. Hanya dengan semangat aku tetap berkeyakinan halaman ini dapat ditanami dengan sayur seperti caisim, pokcay, selada, daun bawang, kangkung, bayam dan apa saja yang mungkin. Kedengarannya mengada-ada, menanam sayuran di halaman yang tak seberapa luas. Mencoba tidak pernah ada salahnya.
Si Emang tukang kebunku yang sabar dan dari awal mendukungku adalah orang yang banyak mengajariku. Dalam bahasa Indonesia dengan dialek Sundanya yang kental ditambah dengan banyaknya ia menggunakan kata-kata yang kadang tak kupahami aku menimba pengetahuan darinya. Herannya kami bisa berbicara sampai berjam-jam.
Masih ada beberapa bedeng yang kosong dan siap untuk ditanami dengan caisim yang sudah disemai. Kulihat si Emang sedang memindahkan satu persatu caisim itu ke tanah. Dengan telunjuknya dia membuat lubang di tanah kemudian memegang batang caisim dan dimasukkan dalam lubang yang telah dibuatnya kemudian menutupnya kembali. Begitu terus sampai semua bedeng yang masih kosong itu terisi. Kemudian dengan tenang dia berjalan mengambil selang dan mulai menyiram caisim yang sudah ditanam sejak kemarin.
Aku mengikutinya terus sembari mengobrol. Dan sembari menyiram dia berujar "minum yang banyak biar cepat besar". Bukan sekali saja dia berujar begitu, berkali-kali sembari terus menyiram. Aku tersenyum. Melihat aku tersenyum lalu dia berkata, "kan ini mahluk hidup, jadi harus dicukupkan makanan dan minumnya baru dia bisa tumbuh subur". Aku kembali tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Kulihat kepuasan di wajahnya ketika semuanya telah tersiram.
Aku masuk rumah sembari memikirkan perkataan Emang tadi. Sesuatu terlintas di kepalaku. Tanaman dan pernikahan....sesuatu yang harus diperlihara, dirawat, diberi makan dan minum. Pernikahan juga seperti itu. Jika ingin langgeng selayaknya rajin dirawat. Sore ini aku mendapat pelajaran hidup dari seorang Emang.
Hm.....secangkir teh mint dan sepotong verkade cinnamon pastilah enak sekali untuk dinikmati. Suatu sore yang indah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar